GERLACH AND ELY INSTRUCTIONAL DESIGN
Fadilah
Khaerunnisa (2014820218)
Fakultas Ilmu Pendidikan (PGSD), Universitas
Muhammadiyah Jakarta
Email : dilahf34@gmail.com
Abstract : The learning model is a systematic way of identifying, developing, and evaluating a set of materials and strategies aimed at achieving specific educational objectives. There are several learning models are used, one of which is a learning model that is suitable for use ie Gerlach and Ely (1971). Gerlach and Ely mendesaian a learning model that is suitable for all people, including for high-level education, as it includes the determination of a suitable strategy used by learners in receiving the material to be delivered. In addition, the model Gerlach and Ely assign usage educational technology products as the media in conveying the material.
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Model ini
merupakan suatu upaya untuk menggambarkan secara grafis, suatu metode
perencanaan pembelajaran yang sistematis. Model ini merupakan suatu garis
pedoman atau suatu peta perjalanan dan hendaknya digunakan sebagai checklist
dalam membuat sebuah rencana untuk kegiatan pembelajaran. Dalam model ini
diperlihatkan keseluruhan proses belajar-mengajar yang baik, sekalipun tidak
menggambarkan perincian setiap komponen. Model ini memperlihatkan hubungan
antara elemen yang satu dengan yang lainnya serta menyajikan suatu pola urutan
yang dapat dikembangkan ke dalam suatu rencana untuk kegiatan pembelajaran.
2.
Pembahasan
Model yang
dikembangkan oleh Gerlach dan Ely
(1971) dimaksudkan sebagai pedoman perencanaan pengajaran. Pengembangan sistem
pembelajaran menurut model ini seperti terlihat dalam diagram yang melibatkan
sepuluh unsur, yaitu:
Gambar 1.
Model Pembelajaran Gerlach dan Ely
a.
Merumuskan
Tujuan Pembelajaran (Specification of Objectives)
Tujuan pembelajaran merupakan suatu
target yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran. Dalam tujuan
pembelajaran merumuskan kemampuan apa yang harus dimiliki siswa pada tingkat
jenjang belajar tertentu, sehingga setelah selesai pokok bahasan tertentu siswa
dapat memiliki kemampuan yang telah ditentukan sebelumnya. Tujuan harus
bersifat jelas (tidak abstrak dan tidak terlalu luas) dan operasional agar
mudah diukur dan dinilai.
b.
Menentukan
Isi Materi (Specification of Content)
Bahan atau materi pada dasarnya
adalah “isi/konten” dari kurikulum, yakni berupa pengalaman belajar dalam
bentuk topik/subtopik dan rinciannya. Isi materi berbeda-beda menurut bidang
studi, sekolah, tingkatan, dan kelasnya. Namun, isi materi harus sesuai dengan
tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu, apa yang akan diajarkan pada siswa
hendaknya dipilih pokok bahasan yang lebih spesifik. Gunanya, selain untuk
membatasi ruang lingkupnya juga apa yang akan diajarkan dapat lebih jelas dan
mudah dibandingkan atau dipisahkan dengan pokok bahasan lain dalam satu mata
pelajaran yang sama.
c.
Penilaian
Kemampuan Awal Siswa (Assessment of Entering Behaviours)
Kemampuan awal siswa ditentukan
dengan memberikan tes awal (pretest). Pengetahuan tentang kemampuan awal siswa
ini penting bagi guru agar dapat memberikan porsi pelajaran yang tepat; tidak
terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Pengetahuan tentang kemampuan awal juga
berguna untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan, misalnya apakah perlu
dipersiapkan pembelajaran atau penggunaan metode tertentu. Pengumpulan data
siswa dilakukan dengan cara :
1. Pretest dilakukan untuk mengetahui student
achievement, yaitu apa yang sudah diketahui dan apa yang belum diketahui
tentang rencana pokok bahasan yang akan diajarkan.
2. Mengumpulkan data pribadi siswa (personal data) untuk
mengukur potensi siswa dan mengelompokkannya ke dalam kategori siswa yang
termasuk fast learners dan siswa yang termasuk slow learners
d.
Menentukan
Strategi (Determination of Strategy)
Menurut Gerlach dan Ely, strategi
merupakan pendekatan yang dipakai pengajar dalam memanipulasi informasi,
memilih sumber-sumber, dan menentukan tugas/peranan siswa dalam kegiatan
belajar mengajar. Dalam tahap ini pengajar harus menentukan cara untuk dapat
mencapai tujuan instruksional dengan sebaik-baiknya. Dua bentuk umum tentang
pendekatan ini adalah untuk ekspose (expository) yang lazim dipergunakan
dalam belajar tradisional, biasanya lebih bersifat komunikasi satu arah, dan
bentuk penggalian (inquiry) yang lebih mengutamakan partisipasi siswa
dalam proses belajar mengajar. Dalam pengertian pembelajaran yang sempit,
metode ini merupakan rencana yang sistematis untuk menyajikan pesan atau
informasi pembelajaran.
e.
Pengelompokkan
Belajar (Organization of Groups)
Setelah menentukan strategi,
pengajar harus mulai merencanakan bagaimana kelompok belajar akan diatur.
Pendekatan yang menghendaki kegiatan belajar secara mandiri dan bebas (independent
study) memerlukan pengorganisasian yang berbeda dengan pendekatan yang
memerlukan banyak diskusi dan partisipasi aktif siswa dalam ruang yang kecil,
atau untuk mendengarkan ceramah dalam ruang yang luas. Beberapa pengelompokkan
siswa antara lain:
1. Pengelompokan berdasarkan jumlah siswa (grouping by
size), yaitu belajar mandiri, kelompok kecil, dan kelompok besar.
2. Pengelompokkan campuran (ungraded grouping),
yaitu pengelompokan yang tidak memandang kelas (tingkat) maupun usia, tetapi
mereka mempunyai tingkat pengetahuan yang sama dalam satu mata pelajaran.
3. Gabungan beberapa kelas (multiclass grouping),
yaitu gabungan dari beberapa kelas yang sama dalam satu ruangan besar, dan
mendapat pelajaran dengan bermacam-macam kegiatan pada saat yang bersamaan.
4. Sekolah dalam sekolah (schools within schools),
yaitu satu kompleks yang besar yang terdiri dari beberapa gedung sekolah.
Pengelompokan ini berdasarkan kemampuan dan hasil-hasil yang dicapai oleh
siswa.
5. Taman kependidikan (educational park), yaitu
kampus yang terdiri atas TK sampai perguruan tinggi dengan pemusatan sarana,
pelayanan dan informasi.
f.
Pembagian
Waktu (Allocation of Time)
Pemilihan strategi dan teknik untuk
ukuran kelompok yang berbeda-beda tersebut mau tidak mau akan memaksa pengajar
memikirkan penggunaan waktu, yaitu apakah sebagian besar waktunya harus
dialokasikan untuk presentasi atau pemberian informasi, untuk praktik
laboratorium secara individual, atau untuk diskusi. Rencana penggunaan waktu
akan berbeda berdasarkan pokok permasalahan, tujuan-tujuan yang dirumuskan,
ruangan yang tersedia, pola-pola administrasi serta abilitas dan minat-minat
para siswa.
g.
Menentukan
Ruangan (Allocation of Space)
Alokasi ruang ditentukan dengan
menjawab apa tujuan belajar dapat dipakai secara lebih efektif dengan belajar
secara mandiri dan bebas, berinteraksi antarsiswa atau mendengarkan penjelasan
dan bertatap muka dengan pengajar. Ada tiga alternatif ruangan belajar,
agar proses belajar mengajar dapat terkondisikan, yaitu ruangan-ruangan
kelompok besar, kelompok kecil, dan ruangan untuk belajar mandiri.
h.
Memilih
media (Allocation of Resources)
Pemilihan media ditentukan menurut
tanggapan siswa yang disepakati, sehingga fungsinya tidak hanya sebagai
stimulus rangsangan belajar siswa semata. Gerlach dan Ely membagi media sebagai
sumber belajar ini ke dalam lima kategori:
1. manusia dan benda nyata,
2. media visual proyeksi,
3. media audio,
4. media cetak, dan
5. media display.
i.
Evaluasi
Hasil Belajar (Evaluation of Performance)
Hakikat belajar adalah perubahan
tingkah laku belajar pada akhir kegiatan pembelajaran. Semua usaha kegiatan
pengembangan instruksional dapat dikatakan berhasil atau tidak setelah tingkah
laku akhir belajar tersebut dievaluasi. Instrument evaluasi dikembangkan atas
dasar rumusan tujuan dan harus dapat mengukur keberhasilan secara benar dan
objektif. Yang dievaluasi dalam proses belajar-mengajar sebenarnya bukan hanya
siswa, tetapi justru sistem pengajarannya. Oleh karena itu, dalam proses
belajar-mengajar terdapat rangkaian tes yang dimulai dari tes awal/entering
behavior untuk mengetahui mutu/isi pelajaran apa yang sudah diketahui oleh
siswa dan apa yang belum, terhadap rencana pelajaran yang akan diajarkan. Entering
behavior untuk mengukur kemampuan siswa dan mengelompokkannya ke dalam
kelompok kemampuan yang kurang, sedang, dan pandai.
j.
Menganalisis
Umpan Balik (Analysis of Feedback)
Analisis umpan balik merupakan tahap
terakhir dari pengembangan sistem pembelajaran ini. Data umpan balik yang
diperoleh dari evaluasi, tes, observasi, maupun tanggapan-tanggapan tentang
usaha-usaha pembelajaran ini menentukan, apakah sistem, metode, maupun media
yang dipakai dalam kegiatan pembelajaran tersebut sudah sesuai untuk tujuan yang
ingin dicapainya atau masih perlu disempurnakan.
Berikut
adalah contoh dari penerapan Model Gerlach dan Ely dalam penyusunan desaian
pembelajaran untuk mata pelajaran KKPI (Keterampilan Komputer dan Pengelolaan
Informasi).
Nama Sekolah : SMK
Negeri
Mata Pelajaran :
Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI)
Kelas/Semester : XI/ II (Genap)
Alokasi Waktu : 4 x 45 menit
a. Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Standar
Kompetensi : Mengoperasikan sistem operasi
software
Kompetensi
dasar : Mengoperasikan software aplikasi
basis data
Indikator :
a. Mendefinisikan field dan record
pembentuk tabel
b.
Menjelaskan
tipe data
dalam database dan pengaruhnya terhadap efesiensi media penyimpanan
data
c.
Menjelaskan perbandingan antara flat file dan relational file
d.
Menentukan primary key
e.
Mengenal
dan menggunakan program pengolah database
f.
Mendemonstrasikan cara membuat database baru
g.
Mendemonstrasikan cara membuat tabel menggunakan design view dan wizard
b. Menentukan Isi Pelajaran
a.
Field dan record
b.
Tipe data
dalam database
c.
Flat file dan relational file
d.
Primary key
e.
Membuat database baru
f.
Membuat tabel menggunakan design view dan wizard
c. Penilaian Kemampuan Awal Siswa
1)
Guru
Memberikan Pretest
Pretest dilakukan
untuk mengetahui apa yang sudah dan belum diketahui siswa tentang Field dan
record, Tipe data dalam database, Flat file dan relational file, Primary key,
Membuat database baru, Membuat tabel menggunakan design view dan wizard.
2)
Data Tentang
Pengetahuan Awal/Kesiapan
Pertanyaan
yang ditujukan ke siswa: Apakah anda telah memahami materi mengenai field
dan record? Bila ya, jawablah pertanyaan berikut!
·
Jelaskan
dengan singkat materi mengenai field dan record yang anda pahami
tersebut!
·
Adakah
manfaat yang anda dapatkan dari materi tersebut untuk kegiatan sehari-hari
anda?
d. Menentukan Strategi Pembelajaran
Tahap I.
Ekspositori
(2 x 15 menit), tentang Field dan record, Tipe data dalam database, Flat file
dan relational file, Primary key, Membuat database baru, Membuat tabel
menggunakan design view dan wizard.
Tahap II.
Demonstrasi
(2 x 20 menit), tentang cara penerapan Field dan record, Tipe data dalam
database, Flat file dan relational file, Primary key, Membuat database baru,
Membuat tabel menggunakan design view dan wizard.
Tahap III.
Latihan
praktik (2 x 40 menit), mempraktikkan cara membuat Field dan record, Tipe data
dalam database, menentukan primary key, Membuat database baru, Membuat tabel menggunakan
design view dan wizard.
Tahap IV.
Diskusi dan
review (2 x 15menit), memecahkan kesulitan di dalam praktik, teknik pengerjaan
dan mengevaluasi.
e. Pengelolaan Kelas
Kelas dibagi
ke dalam 3 (tiga) kelompok
Kelompok I:
Mendapat
tugas mempraktekkan cara membuat Field dan record, Tipe data dalam database
Kelompok II:
Mendapat
tugas mempraktekkan cara menentukan primary key, Membuat database baru,
Kelompok III:
Mendapat
tugas mempraktekkan cara membuat tabel menggunakan design view dan wizard
f.
Pembagian
Waktu
Jumlah
pertemuan untuk pembelajaran ini untuk dua kali pertemuan adalah 4 x 45 menit,
sama dengan 4 jam pelajaran.
g. Penyiapan Ruang
Seluruh
proses pembelajaran berlangsung di dalam satu ruangan laboratorium komputer.
Dengan menampung sebanyak 36 siswa. Ruang ini dilengkapi dengan 38 komputer,
whiteboard, dan LCD proyektor.
h. Penyediaan Media Pembelajaran
1)
Buku teks:
·
Tim Aviva
(2010), Master KKPI Untuk SMK Kelas XI, Jakarta CV Aviva
2)
Perlengkapan:
·
38 Set
Komputer
·
Whiteboard 1
buah
·
LCD
proyektor
i.
Penilaian
Berbentuk
pilihan ganda sebanyak 20 buah dan pertanyaan essay sebanyak 5 buah dengan
komposisi seimbang, begitu juga bobotnya. Soal dibuat berdasarkan tujuan yang
telah disusun sebelumnya.
j.
Analisis
Umpan Balik
Kegiatan
evaluasi tidak semata-mata membuat soal, tetapi meliputi pengumpulan data
mengenai kegiatan proses pelajaran, aktivitas siswa selama proses pembelajaran,
memonitor proses pembelajaran, serta mengukur tercapai tidaknya hasil belajar
para siswa. Evaluasi merupakan proses kegiatan yang menghasilkan laporan untuk
kemudian dianalisis serta memperoleh umpan balik berupa informasi apakah tujuan
pembelajaran sudah tercapai atau belum. Jika tujuan pembelajaran belum
tercapai, maka harus dicari kelemahannya dan dilakukan remedial. Kegiatan
evaluasi di dalam proses pembelajaran itu bukan semata-mata menilai para siswa
saja, melainkan juga ditujukan pada sistem pembelajaran yang dilakukan.
·
Kelebihan
Model Belajar Gerlach dan Ely
Model
pembelajaran Gerlach dan Ely memiliki perbedaan tersendiri dibanding dengan
model pembelajaran yang lainnya. Perbedaan yang paling kentara adalah
diadakannya pretest (tes awal) sebelum kegiatan belajar mengajar
dilaksanakan. Mungkin pretest pun dapat ditemukan pada model pembelajaran Kemp,
namun bedanya dalam model Kemp pretest yang dilakukan tidak terlalu membawa
permasalahan besar atau bukan merupakan tahap yang paling penting karena pada
model Kemp sebelum menentukan tujuan instruksional telah dilakukan analisis
karakteristik siswa. Sehingga latar belakang pendidikan dan sosial budaya siswa
telah diketahui sebelum menentukan tujuan pembelajaran. Sedangkan dalam model
Gerlach dan Ely, pretest merupakan tahapan yang cukup dipandang penting karena
guru belum mengenal karakteristik siswa.
Di samping
itu, model pembelajaran Gerlach dan Ely sangat teliti sekali dalam melaksanakan
atau merencanakan pembelajaran, terbukti dengan diadakannya tahapan
pengelompokan belajar, penghitungan pembagian waktu, serta pengaturan ruangan
belajar. Hal ini merupakan kelebihan tersendiri dari model Gerlach dan Ely yang
telah dikenal dan dikembangkan sejak tahun 1971.
·
Kekurangan
Model Belajar Gerlach dan Ely
Model pembelajaran
Gerlach dan Ely memiliki sedikit kekurangan, di antaranya adalah tidak adanya
tahapan pengenalan karakteristik siswa sehingga sedikitnya akan membuat guru
kewalahan dalam menganalisis kebutuhan belajar siswa selama proses
pembelajaran. Bahkan mungkin lebih jauhnya akan membuat guru salah dalam
memberikan dosis pelajaran karena tidak mengenal latar belakang keluarga,
psikologis, pendidikan, sosial, serta budaya dari siswa tersebut.
Kesimpulan.
Model
pembelajaran Gerlach dan Ely dikembangkan berdasarkan sepuluh unsur yaitu:
1.
Spesifikasi
isi pokok bahasan.
2.
Spesifikasi
tujuan pembelajaran.
3.
Pengumpulan
dan penyaringan data tentang siswa.
4.
Penentuan
cara pendekatan, metode, dan teknik mengajar.
5.
Pengelompokan
siswa.
6.
Penyediaan
waktu.
7.
Pengaturan
ruangan.
8.
Pemilihan
media/sumber belajar.
9.
Evaluasi.
10. Analisis umpan balik.
Gerlach dan Ely mendesaian sebuah
model pembelajaran yang cocok digunakan untuk segala kalangan termasuk untuk
pendidikan tingkat tinggi, karena di dalamnya terdapat penentuan strategi yang
cocok digunakan oleh peserta didik dalam menerima materi yang akan disampaikan.
Di samping itu, model Gerlach dan Ely menetapkan pemakaian produk teknologi
pendidikan sebagai media dalam menyampaikan materi.
Referensi
http://duniatp.blogspot.co.id/2015/04/model-pembelajaran-gerlach-dan-ely.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar