PEMBELAJARAN TEMATIK DAN IMPLEMENTASI
DI SEKOLAH DASAR
(mata kuliah pembelajaran tematik SD)
Dosen : Edriati M.Pd
FADILAH KHAERUNNISA
2014820218
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH JAKARTA
KAMPUS D
BEKASI
Jln. Ki
Mangun Sarkoro. No 45 Kota Bekasi
BAB I
Pendahuluan
A.
Latar Belakang
Latar Belakang
Pembelajaran TematikPeserta didik yang masih berada pada sekolah dasar atau
madrasah ibtidaiyah yaknikhususnya pada kelas bawah, kelas 1, 2 dan 3 adalah
berada pada rentangan usia dini. Dimana pada usia tersebut seluruh aspek
perkembangan kecerdasannya seperti IQ, EQ, dan SQtumbuh dan berkembang sangat
luar biasa. Umumnya tingkat perkembangan masihmemendang bahwa segala sesuatu
itu sebagai keutuhan ( holistik ) serta mampu memahamihubungan antara konsep
secara sederhana. Proses pembelajarannya masih bergantung padaobjek-objek
konkrit dan pengalaman yang dialami peserta didik secara langsung.
Sampai saat ini,
pelaksanaan kegiatan pembelajaran di MI untuk setiap mata pelajarandilakukan
secara terpisah. Misalnya, Agama Islam 2 jam pelajaran, BHS Indonesia 2
jampelajaran, IPS 2 jam pelajaran begitu pula dengan pelajaran yang lainnya.
Dalampenyampaian materinya pun masih monoton tanpa dikaitkan dengan materi
pelajaran yanglain. Padahal pada usia tersebut pemikiran peserta didik masih
bersifat holistik, sehinggapembelajaran terpisah malah menyulitkan mereka. Hal
tersebut banyak menyebabkantingginya angka peserta didik mengulang kelas bahkan
putus sekolah.data tahun 1999/2000menyebutkan bahwa angka mengulang kelas 1
(11,6%), kelas 2 (7,5%), kelas 3 (6,13%),kelas 4 (4,64%), kelas 5 (3,1%), dan
kelas 6 (0,37%). Pada tahun yang sama angka putussekolah kelas 1 (4,22%), masih
jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas 2 yakni(0,83%), kelas 3
(2,27%), kelas 4 (2,71%), kelas 5 (3,79%), dan kelas 6 (1,78%).
Berbagai hasil
penelitian yang dilakukan oleh lembaga internasional maupun data
statistiknasional menunjukkan bahwa pendidikan dasar di Indonesia belum
menunjukkan hasil yangmemuaskan. Direktorat Pendidikan TK dan SD tahun
2000/2001 juga menunjukkan bahwarata-rata daya serap kurikulum secara nasional
juga masih rendah yaitu 5,1 untuk lima matapelajaran.
Kondisi yang
memprihatinkan tersebut juga disebabkan oleh kurangnya pendidikanprasekolah
atau Taman Kanak-kanak di daerah terpencil. Padahal pendidikan prasekolahsangat
membantu kesiapan peserta didik untuk melanjutkan proses pendidikan ke
jenjangberikutnya yakni SD/MI. Atas dasar pertimbangan tersebut dan dalam
rangka implementasistandar isi atau (SI) yang termuat dalam Standar Nasional
Pendidikan, pelaksanaan pembelajaran pada kelas bawah yakni kelas 1, 2, dan 3
MI akan lebih tepat jika dikeloladengan pembelajaran terpadu melalui pendekatan
pembelajaran tematik untuk semua matapelajaran. Pembelajaran model tematik
diharapkan mampu memperbaiki dan meningkatkanproses pembelajaran di kelas serta
meningkatkan penguasaan siswa terhadap materipembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pembelajaran Tematik
Pembelajaan
tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk
mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman
bermakna kepada siswa.
Dengan tema diharapkan akan memberikan
banyak keuntungan, di antaranya:
- Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,
- Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama;
- Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
- Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa;
- Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas;
- Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain;
- Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.
Pemerintah pada beberapa tahun
lalu telah mengeluarkan kebijakan tentang otonomi daerah. Kebijakan ini antara
lain memberi ruang gerak yang luas kepada lembaga pendidikan khususnya sekolah
dasar dalam mengelola sumber daya yang ada, dengan cara mengalokasikan seluruh
potensi dan prioritas sehingga mampu melakukan terobosan-terobosan sistem
pembelajaran yang lebih inovatif dan kreatif.
Salah satu upaya kreatif dalam melaksanakan
pembelajaran yang menggunakan kurikulum
berbasis kompetensi di sekolah dasar adalah melakukan pembelajaran tematik.
Pembelajaran model ini akan lebih menarik dan bermakna bagi anak karena model
pembelajaran ini menyajikan tema-tema pembelajaran yang lebih aktual dan
kontekstual dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian masih banyak pihak yang
belum memahami dan mampu menerapkan model ini secara baik. Melalui tulisan ini
akan diuraikan secara singkat tentang pembelajaran tematik secara konseptual
dan implementasinya dalam kegiatan pembelajaran.
B. Landasan Pembelajaran
Tematik
Landasan Pembelajaran
tematik mencakup:
1.
Landasan filosofis
Dalam
pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu: (a)
progresivisme, (b) konstruktivisme, dan (c) humanisme.
- Aliran progresivisme yang memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa.
- Aliran konstruktivismeyang melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya.
- Aliran humanisme yang melihat siswa dari segi keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya.
2.
Landasan psikologis.
Dalam
pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta
didik dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam
menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar
tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta
didik. Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran
tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus
mempelajarinya.
3.
Landasan yuridis.
Dalam
pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang
mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar. Landasan yuridis
tersebut adalah UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan
bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka
pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya
(pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan
bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan
pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V Pasal
1-b).
Arti dan Prinsip Dasar Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik dapat
diartikan suatu kegiatan pembelajaran dengan mengintegrasikan materi beberapa
mata pelajaran dalam satu tema/topik pembahasan. Sutirjo dan Sri Istuti Mamik
(2004: 6) menyatakan bahwa pembelajaran tematik merupakan satu usaha untuk
mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, nilai, atau sikap pembelajaran,
serta pemikiran yang kreatif dengan menggunakan tema. Dari pernyataan tersebut
dapat ditegaskan bahwa pembelajaran tematik dilakukan dengan maksud sebagai
upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan, terutama untuk
mengimbangi padatnya materi kurikulum. Disamping itu pembelajaran tematik akan
memberi peluang pembelajaran terpadu yang lebih menekankan pada
partisipasi/keterlibatan siswa dalam belajar. Keterpaduan dalam pembelajaran
ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum, dan aspek
belajar mengajar.
Dalam menerapkan dan
melaksanakan pembelajaran tematik, ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan yaitu 1) bersifat
terintegrasi dengan lingkungan, 2) bentuk belajar dirancang agar siswa
menemukan tema, dan 3) efisiensi. Agar diperoleh gambaran yang lebih jelas
berikut ini akan diurakan ketiga prinsip tersebut, berikut ini.
1. Bersifat kontekstual atau terintegrasi
dengan lingkungan.
Pembelajaran yang dilakukan perlu
dikemas dalam suatu format keterkaitan, maksudnya pembahasan suatu topik
dikaitkan dengan kondisi yang dihadapi siswa atau ketika siswa menemukan
masalah dan memecahkan masalah yang nyata dihadapi siswa dalam kehidupan
sehari-hari dikaitkan dengan topik yang
dibahas.
2. Bentuk belajar harus
dirancang agar siswa bekerja secara sungguh-sungguh untuk menemukan tema
pembelajaran yang riil sekaligus mengaplikasikannya. Dalam melakukan
pembelajaran tematik siswa didorong untuk mampu menemukan tema-tema yang
benar-benar sesuai dengan kondisi siswa, bahkan dialami siswa.
3. Efisiensi
Pembelajaran
tematik memiliki nilai efisiensi antara lain dalam segi waktu, beban materi,
metode, penggunaan sumber belajar yang otentik sehingga dapat mencapai
ketuntasan kompetensi secara tepat.
Ciri-ciri Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik memiliki
ciri-ciri atau karakteristik sebagaimana diungkapkan dalam www. pppg
tertulis.or.id. sebagai berikut 1) berpusat pada siswa, 2) Memberikan
pengalaman langsung kepada siswa, 3)
Pemisahan mata pelajaran tidak
begitu jelas, 4) Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu
proses pembelajaran., 5) Bersifat fleksibel, 6) Hasil pembelajaran dapat
berkembang sesuai dengan minat, dan kebutuhan siswa. Agar diperoleh gambaran
yang lebih jelas tentang karakteristik tersebut dapat diuraikan sebagai
berikut:
1. Berpusat pada siswa
Proses
pembelajaran yang dilakukan harus menempatkan siswa sebagai pusat aktivitas dan
harus mampu memperkaya pengalaman belajar. Pengalaman belajar tersebut
dituangkan dalam kegiatan belajar yang menggali dan mengembangkan fenomena alam
di sekitar siswa.
2. Memberikan pengalaman langsung kepada
siswa
Agar
pembelajaran lebih bermakna maka siswa perlu belajar secara langsung dan
mengalami sendiri. Atas dasar ini maka guru perlu menciptakan kondisi yang
kondusif dan memfasilitasi tumbuhnya pengalaman yang bermakna.
3. Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas
Mengingat tema dikaji dari berbagai mata pelajaran dan
saling keterkaitan maka batas mata
pelajaran menjadi tidak begitu jelas.
4. Menyajikan konsep dari berbagai mata
pelajaran dalam suatu proses pembelajaran.
5. Bersifat fleksibel
Pelaksanaan
pembelajaran tematik tidak terjadwal
secara ketat antar mata pelajaran.
6. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai
dengan minat, dan kebutuhan siswa.
Peran dan Pemilihan Tema dalam Pembelajaran Tematik
Tema dalam pembelajaran
tematik memiliki peran antara lain:
1. Siswa lebih mudah memusatkan perhatian
pada satu tema atau topik tertentu.
2. Siswa dapat mempelajari pengetahuan dan
mengembangkan berbagai kompetensi mata pelajaran dalam tema yang sama.
3. Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan
4. Kompetensi berbahasa bisa dikembangkan
lebih baik dengan mengaitkan mata pelajaran lain dan pengalaman pribadi siswa.
5. Siswa lebih merasakan manfaat dan makna
belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas.
6. Siswa lebih bergairah belajar karena
mereka bisa berkomunikasi dalam situasi yang nyata.
7. Guru dapat menghemat waktu karena mata
pelajaran yang disajikan secara terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan
diberikan dalam 2 atau 3 kali.
Pemilihan tema dalam
pembelajaran tematik dapat berasal dari guru dan siswa. Pada umumnya guru
memilih tema dasar dan siswa menentukan unit temanya. Tema juga dapat dipilih berdasarkan
pertimbangan konsensus antar siswa.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran tematik
Ada beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan dalam pembelajaran tematik, yaitu:
1. Pembelajaran tematik dimaksudkan agar
pelaksanaan kegiatan pembelajaran lebih bermakna dan utuh.
2. Dalam pelaksanaan pembelajaran
tematik perlu mempertimbangkan alokasi
waktu untuk setiap topik, banyak sedikitnya bahan yang tersedia di lingkungan.
3. Pilihlah tema yang terdekat dengan siswa.
4. Lebih mengutamakan kompetensi dasar yang
akan dicapai dari pada tema.
Keunggulan dan kekurangan Pembelajaran
Tematik
Pelaksanaan pembelajaran
tematik memiliki beberapa keuntungan dan juga kelemahan yang diperolehnya.
Keuntungan yang dimaksud yaitu:
1. Menyenangkan karena bertolak dari minat
dan kebutuhan siswa
2. Pengalaman dan kegiatan belajar relevan
dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa.
3. Hasil belajar akan bertahan lebih lama
karena lebih berkesan dan bermakna.
4. Menumbuhkan keterampilan sosial, seperti
bekerja sama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
Pembelajaran tematik di
samping memiliki beberapa keuntungan sebagaimana dipaparkan di atas, juga
terdapat beberapa kekurangan yang diperolehnya. Kekurangan yang ditimbulkannya
yaitu:
1. Guru dituntut memiliki keterampilan yang
tinggi
2. Tidak setiap guru mampu mengintegrasikan
kurikulum dengan konsep-konsep yang ada dalam mata pelajaran secara tepat.
Implementasi Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar
Pembelajaran
tematik di sekolah dasar (SD) merupakan suatu hal yang relatif baru, sehingga dalam implementasinya belum sebagaimana yang
diharapkan. Masih banyak guru yang merasa sulit dalam melaksanakan pembelajaran
tematik ini. Hal ini terjadi antara lain karena guru belum mendapat pelatihan
secara intensif tentang pembelajaran
tematik ini. Disamping itu juga guru masih sulit meninggalkan kebiasan kegiatan pembelajaran yang
penyajiannya berdasarkan mata pelajaran/bidang studi.
Pelaksanaan
pembelajaran tematik di sekolah dasar pada saat ini difokuskan pada kelas-kelas bawah (kelas 1
dan 2) atau kelas yang anak-anaknya masih tergolong pada anak usia dini,
walaupun sebenarnya pendekatan pembelajaran tematik ini bisa dilakukan di semua
kelas sekolah dasar.
Pembelajaran
tematik dilakukan dengan beberapa tahapan-tahapan seperti penyusunan perencanaan,
penerapan, dan evaluasi/refleksi. tahap-tahap ini secara singkat dapat
diuraikan sebagai berikut:
1. Perencanaan
Mengingat perencanaan sangat menentukan keberhasilan suatu pembelajaran
tematik, maka perencanaan yang dibuat dalam rangka pelaksanaan pembelajaran
tematik harus sebaik mungkin Oleh karena itu ada beberapa langkah yang perlu
dilakukan dalam merancang pembelajan tematik ini yaitu: 1) Pelajari kompetensi
dasar pada kelas dan semester yang sama dari setiap mata pelajaran, 2) Pilihlah
tema yang dapat mempersatukan kompetensi-kompetensi untuk setiap kelas dan semester, 3) Buatlah
”matriks hubungan kompetensi dasar dengan tema”, 4) Buatlah pemetaan
pembelajaran tematik. Pemetaan ini dapat dapat dibuat dalam bentuk matriks atau
jareingan topik, 5) Susunlah silabus dan rencana pembelajaran berdasarkan
matriks/jaringan topik pembelajaran tematik.
2. Penerapan pembelajaran tematik
Pada
tahap ini intinya guru melaksanakan rencana pembelajaran yang telah disusun
sebelumnya. Pembelajaran tematik ini akan dapat diterapkan dan dilaksanakan
dengan baik perlu didukung laboratorium yang memadai. Laboratorium yang
memadai tentunya berisi berbagai sumber
belajar yang dibutuhkan bagi pembelajaran di sekolah dasar. Dengan tersedianya
laboratorium yang memadai tersebut maka guru ketika menyelenggarakan
pembelajaran tematik akan dengan mudah memanfaatkan sumber belajar yang ada di
laboratorium tersebut, baik dengan cara membawa sumber belajar ke dalam kelas
maupun mengajak siswa ke ruang laboratorium yang terpisah dari ruang kelasnya.
3.
Evaluasi Pembelajaran Tematik
Evaluasi pembelajaran tematik difokuskan pada
evaluasi proses dan hasil. Evaluasi proses diarahkan pada tingkat keterlibatan,
minat dan semangat siswa dalam proses pembelajaran, sedangkan evaluasi hasil
lebih diarahkan pada tingkat pemahaman dan penyikapan siswa terhadap substansi
materi dan manfaatnya bagi kehidupan siswa sehari-hari. Disamping itu evaluasi
juga dapat berupa kumpulan karya siswa selama kegiatan pembelajaran yang bisa
ditampilkan dalam suatu paparan/pameran karya siswa.
Instrumen yang dapat digunakan untuk
mengungkap pemahaman siswa terhadap materi pelajaran dapat digunakan tes hasil
belajar. dan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa melakukan suatu tugas
dapat berupa tes perbuatan atau keterampilan dan untuk mengungkap sikap siswa
terhadap materi pelajaran dapat berupa wawancara, atau dialog secara informal.
BAB III
KESIMPULAN
Kesimpulan
Berdasarkan
uraian di atas dapat ditegaskan bahwa pembelajaran tematik dimaksudkan agar pembelajaran lebih bermakna
dan utuh. Pembelajaran tematik ini
memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan perhatian,
aktivitas belajar, dan pemahaman siswa
terhadap materi yang dipelajarinya, karena pembelajarannya lebih berpusat pada
siswa, memberikan pengalaman langsung kepada siswa, pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas, menyajikan
konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran., bersifat
fleksibel, hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat, dan
kebutuhan siswa.
Pembelajaran
tematik agar berhasil dengan baik perlu dilakukan dengan menempuh tahapan perencanaan,
penerapan dan evaluasi.
BAB
IV
DAFTAR
PUSTAKA
Daftar Pustaka
Sutirjo
dan Sri Istuti Mamik. (2005). Tematik:
Pembelajaran Efektif dalam Kurikulum 2004. Malang: Bayumedia Publishing.
www. pppg tertulis.or.id. Pembelajaran Tematik
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:zxi3BuVxdj8J:https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/13/pembelajaran-tematik-di-kelas-awal-sekolah-dasar/+&cd=1&hl=id&ct=clnk
